, Your SEO optimized title, , ,, haris fadhillah
 
1. puisi berkualitas ialah apabila puisi itu mampu MEREKAM ISI JIWA PENYAIRNYA. Rekaman ini dimanifestasikan melalui olah bahasa, olah rasa, dan olah tata nilai yang dijadikan acuan penulisan penyairnya. Puisi hakikatnya ialah rekamana isi jiwa penyairnya yang termanifestasikan melalui bahasa.

2. puisi berkualitas ialah puisi yang KOMUNIKATIF. Bentuk rekaman jiwa (nomor 1 di atas). melalui aneka piranti bahasa (lambang, kias, majas, dll) penyair berupaya membuat apa yang diungkapkan tampil dengan menawan, dapat dinikmati oleh banyak pembaca, dan penyajiannya menarik. Selain keindahan isi refleksi, daya tarik puisi bertumpu pada bagaimana mengkomunikasikannya ke dalama teks puisi.

3. puisi yang berkualitas menunjukan adanya KETERATURAN baik dalam cara/gaya pemaparan bahasa dalam mengungkapkan isi--substansi. Sesuatu yang teratur akan baik ( ingatlah bahwa keteraturaan itu identik dengan adanya harmoni, keselarasan, dan keseimbangan) antara bentuk ekspresi bahasa dan isinya.

4. puisi berkualitas ditandai adanya SEBUAH INTEGRASI. Integrasi ini dapat dimaknai sebagai penyatuan berbagai elemen puisi yang memusat atau mengarah pada fokus tertentu.

5. Puisi yang berkualitas menghendaki adanya KEPADATAN. kepadatan isi dan bentuk bahasa serta ekspresi merupakan hasil kontemplasi dan intensitas renungan penyair.

 
 
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

Website ini merupakan ruang pajang bagi kreasi puisi, ruang ekspresi kreativitas bidang puisi, menyediakan aksesories puisi, dan memaksimalkan kegiatan sanggar penulisan puisi, apresiasi puisi, dan cinta pada puisi.  

Dunia kreativitas penulisan kreatif puisi begitu luas tanpa batas. kreativitas senantiasa menyumbul dan meretas batas-batas yang memungkinkan untuk menemukan gaya pengucapan, pola pengucapan, dan bentuk estetis penulisan puisi. 

Karya dan kekaryaan di bidang kreativitas penulisan puisi selalu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang asyik dan menyenangkan. 

Ada ratusan Puisi dari ratusan Penyair dan Esai tentang Puisi pada Website ini dan sebagian besar berdasarkan aktivitas yang terjadi pada https://www.facebook.com/groups/bengkelpuisimandiri

Jika Anda menganggap Website ini bermanfaat, beritahukan pada rekan-rekan yang lain.... 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. 

Salam
Haris Fadhillah, 
pengasuh http://www.bengkelpuisi.net/. 
 
 

Dimas Arika Mihardja

Penyair kuat ialah mereka yang menguasai bahasa. Menguasai bahasa dapat dimaknai sebagai dikuasainya hal ikhwal tata tulis. Tata tulis dalam bahasa Indonesia diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Penguasaan kaidah bahasa adalah prasyarat pertama bagi penulis puisi. Tanpa penguasaan kaidah berbahasa (tata tulis, EYD) maka pengemasan pesan komunikasi mungkin akan meleset. JIka pesan komunikasi meleset, maka gagallah komunikasi.

Puisi, terutama puisi baru yang bercorak bebas, memang memberikan ruang kebebasan dalam hal penulisan. Konvensi penulisan puisi (aturan-aturan) pada awalnya memang penting dikuasai oleh siapa pun yang bergerak menulis puisi. Jika penulis puisi telah menguasai bahasa, mungkin akan timbul keinginan untuk memperbarui pengungkapan dengan apa yang disebut licentia poetica (kebebasan penyair saat berkarya menggunakan bahasa). Licentia poetica ini tentu saja tidak semena-mena, tidak memberikan kebebasan sebebas-bebasnya, sebab komunikasi menggunakan bahasa adalah juga memanfaatkan simbol (tanda baca).

Beberapa masih ada yang gamang atau ragu mengenai kaidah EYD dan seakan-akan kamus adalah buku yang menjawab segala urusan EYD, padahal kamus adalah himpunan kata-kata (bukan aturan berbahasa). 

Salam DAM 123 sayang pada bahasa
 
 
SAJAK ATAU PUISI ialah gelegak riak jiwa, kesan-kesan perseptual, rekaman rangsang puitik yang tumbuh memutik di antara kelopak bunga kata. Sajak selalu bergerak serupa riak menjadi ombak lalu bergulung serupa gelombang rasa dengan irama nada sebagai hasil olah pikir, dzikir, dan menafsirkan hidup dan kehidupan. Sajak yang kutulis kadang serupa kaca jerning begitu bening hingga kita dengan mudah bercermin melihat aneka bayang wajah sendiri, orang lain, semesta, dan bisa jadi wajah Tuhan yang secara mimesis tampil dalam aneka rupa. Sajak serupa ini kunamakan sebagai sajak "Sederhana untukmu": kutulis sebuah sajak sederhana untukmu dan untuk-Mu. Sebuah sajak mengelopak di dada, kupersembahkan untukmu dan untuk-Mu. Inilah sajakku, suara sukma yang terpadu melagukan nama-nama mesra menyentuh kalbu".

Sebuah sajak, dalam konteks tertentu serupa dengan hidangan yang siap untuk disantap:"Santaplah sajakku. Anggurnya mewangi. Santaplah buah yang terhidang penuh dengan kecintaan, sebab di sana ada desah sederhana untuk keselamatan perhelatan". Penggubah sajak, dalam kaitan ini serupa koki yang meracik hidangan buat persembahan. Sajak yang hakikatnya sebuah masakan itu lalu terhidang untuk keselamatan perhelatan. Ya, perhelatan,sebab hiup ini senyatanya merupakan serangkaian ritual peribadatan yang disebut perhelatan. Hidangan berupa sajak yang tersaji memang harus dinikmati dengan kegairahan tersendiri: Santaplah sajakku, anggurnya mewangi. Santaplah buah yang terhidang penuh gairah, sebab di sana ada desah sederhana untukmu. Tugas penggubah sajak telah selesai begitu telah menyajikan puisi di atas meja hidangan.

Selama menekuni karir di bidang penulisan kreatif puisi, saya menemu sebuah konsepsi estetis bahwa puisi itu merupakan saksi yang sexy. Bagi saya, puisi semata-mata berfungsi sebagai saksi. Saksi yang sexy. Sexy? Ya, keseksian menurut pertimbangan nalar saya bukan semata-mata tampil dalam bentuk atau sosok fisikal semata, dan yang terutama ialah keseksian secara batiniah. Nah, "apa pula keseksian yang bersifat batiniah ini?", mungkin Anda bertanya? Baiklah, saya akan berusaha memperkenalkan konsep ini: puisi sebagai saksi yang sexy.

Menurut pertimbangan saya, berdasarkan sedikit pengalaman selama ini, puisi hadir sebagai saksi. Melalui puisi yang diciptakan oleh penyair, siapa pun penyair itu, puisi yang dihadirkannya pertama-tama merupakan pengalaman pribadi, sosial, atau religius terhadap apa yang terjadi di sekeliling yang bersifat kontekstual. Puisi yang hakikatnya merupakan pengalaman yang paling berkesan bagi penyairnya itu, langsung atau tidak langsung memberikan kesaksian atas berbagai fenomena yang secara kontekstual terjadi pada masanya.

Sebagai kesaksian, puisi mengabadikan peristiwa (suasana, fenomena, berita batin, sikap, visi dan misi) yang paling berkesan, yang realisasinya dapat berupa potret hitam putih, gambar beraneka warna, atau lukisan yang terpapar menurut berbagai aliran melalui pilihan kata yang mewakili aneka pencerapan dan perenungan penyairnya. Puisi dengan demikian berfungsi sebagai saksi mata batin penyairnya. Dalam konteks ini, puisi yang sexy ialah puisi yang mampu mengusung spiritualitas, rohaniah, dan batiniah di mata batin penyair dan pembaca puisi.

Selain sebagai saksi puisi ternyata dalam menjalankan fungsinya berpenampilan sexy. Sexy di sini hendaklah diperluas perspektifnya. Keseksian puisi tidak semata-mata tampil melalui tipografi (tata wajah), diksi (pilihan kata) yang diperindah, melangit, di awang-awang, abstrak, dan seterusnya. Puisi tampil sexy bukan semata-mata pada keindahan bahasanya, meskipun keindahan bahasa menjadi ciri pribadi puisi yang sexy, keseksian puisi juga tampil melalui keindahan makna (perenungan, refleksi, nilai, guna, dan manfaatnya). Pemakaian bentuk bahasa yang indah memang sebagai wadah penyampaian makna yang juga indah. Keseksian puisi hadir melalui keindahan bahasa dan keelokan makna bagi kehidupan manusia. Puisi yang sexy, dengan demikian merupakan puisi yang memiliki harmonisasi, intensifikasi, dan korespondensi antara bahasa dan pendaran maknanya.

Puisi yang sexy mempersyaratkan adanya media ekspresi (bahasa) yang indah dan substansi isi (makna) yang juga indah. Keelokan bahasa yang membungkus makna yang bernilai tentu akan mempercantik sosok puisi. Namun, demikian harus buru-buru ditambahkan bahwa fenomena keindahan bahasa dan makna sebagai penanda keseksian puisi ini realisasinya dapat beraneka ragam. Keseksian puisi, sesuai dengan evolusi selera pembaca, terentang antara sosok puisi yang diafan (mudah dipahami) hingga sosok puisi yang prismatis (banyak memendarkan makna seperti prisma). Memang ada sosok puisi yang tergolong hermetis (gelap) yang susah dipahami oleh pembaca. Puisi yang gelap, yang susah dipahami oleh pembaca menurut saya tidaklah termasuk pada puisi yang seksi sebab di sana terdapaat kebuntuan komunikasi. Puisi yang seksi adalah puisi yang "komunikatif" (komunikatif dalam tanda petik).

Puisi hakikatnya merupakan kesaksian penyairnya. Puisi protes, puisi kamar, atau puisi auditorium semuanya merupakan kesaksian penyairnya. Puisi demo, yakni puisi yang memuat protes berupa unjuk rasa secara jelas memberikan kesaksian terhadapfenomena zaman. Puisi kamar, yakni puisi yang cocok dibaca seorang diri di dalam kamar, yang biasanya berisi perenungan penyairnya, hakikatnya juga memberikan kesaksian atas berbagai hal baik secara personal, sosial, atau dalam konteks religiusitas penyairnya. Demikian pula puisi yang bersorak auditorium, yakni puisi yang cocok dibacakan di hadapan audiens di auditorium (panggung) juga berisi kesaksian penyair terhadap gejolak zaman.

Demikian, salam budaya.
oleh DIMAS ARIKA MIHARDJA 
 
    Picture
    ALEXA RANK
    Check google pagerank for bengkelpuisi.net
    Rating for ajendam-mulawarman.mil.id
    eXTReMe Tracker